11 Oct 2018

Reynazran Royono Membaca Pelanggan dari Setruk Belanja

SEUSAI berbelanja, kebanyakan orang akan membuang setruk yang mereka terima dari kasir. Kalaupun disimpan, setruk itu umumnya hanya sementara untuk mengecek kesesuaian perhitungan kasir ataupun mencari kemungkinan adanya produk bonus dari barang yang dibeli. 

 

Reynazran Royono Membaca Pelanggan dari Setruk Belanja

Namun, mereka yang mengunduh aplikasi Snapcart akan melihat setruk belanja dari sisi yang lain. Setruk menjadi lebih berharga, berapa pun nilai belanja ataupun ada atau tidaknya barang bonus.

Orang tinggal memotret setruk belanja mereka dan menggunggahnya ke Snapcart. Sebagai imbalan, mereka mendapatkan uang yang ditransfer ke rekening atau koin yang didapatkan melalui gim Snaptastic. Imbalan ini juga bisa didapatkan melalui video promosi dan mengisi survei. Koin yang terkumpul juga bisa ditukarkan dengan cashback.

Jika Anda bertanya, apa yang selanjutnya Snapcart lakukan dengan setruk belanja tersebut? Jawabannya ialah kegunaan besar bagi para perusahaan produk konsumen (consumer goods). Setruk belanja itu digunakan sebagai basis data untuk membaca pola belanja masyarakat. Dari situ pula para perusahaan bisa meluaskan lagi manfaatnya hingga ke strategi penjualan dan promosi.

Kemampuan aplikasi yang bisa memperbesar fungsi data dari setruk belanja ini merupakan buah ide Reynazran Royono. Pria yang akrab disapa Rey mendirikan Snapcart pada 2015 setelah bekerja di beberapa industri. Pengalaman 9 tahun bekerja di industri barang konsumen, kemudian bekerja sebagai konsultan perusahaan telekomunikasi dan juga di perusahaan situs web iklan baris Berniaga.com, membuatnya melihat masih besarnya peluang digitalisasi untuk berbagai perusahaan di Indonesia.

“Jadi, saya melihat dua kondisi yang berbeda, antara ketika saya bekerja di consumer goods dengan waktu saya meng-handle perusahaan online. Jadi sebenarnya idenya sih bagaimana caranya biar capability atau hal-hal yang saya bisa lihat di perusahaan online itu bisa saya bawa ke industri lain yang masih fokus pada kegiatan yang menggunakan offline channel,” ungkap Rey saat ditemui Media Indonesia di kantor Snapcart, di Epicentrum, Jakarta, Selasa (9/10).

Bersadarkan ide awal itu, pria berusia 38 tahun ini kemudian berfokus kepada data-data perniagaan, khususnya belanja masyarakat. Selain itu, ia menyadari data belanja offline masih susah didapatkan. Hal ini bukan saja terjadi di Indonesia, melainkan juga banyak negara berkembang karena banyaknya toko atau kegiatan transaksi yang berhubungan dengan data yang masih dilakukan secara tradisional.

Di sisi lain, penetrasi penggunaan ponsel di Indonesia cukup tinggi. Maka, terciptalah aplikasi yang membuat orang membagikan data belanja offline mereka melalui ponsel.

“Nah, di situlah Snapcart memosisikan secara unik bahwa kami bisa mengoleksi data, memproses, dan juga memberikan servis atau produk yang berhubungan dengan data offline yang kami koleksi,” ungkap pria lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung ini.
Ia mengklaim, data yang bisa didapatkan Snapcart per hari mencapai 20 ribu setruk. Sementara itu, jenis produk belanja yang mereka data masih berupa produk konsumen, belum berupa produk pakaian, makanan cepat saji, ataupun dari belanja kafe.

Keamanan data
Selain aplikasi pengoleksian data setruk belanja, Rey juga membuat aplikasi Cashier. Sebagaimana namanya, aplikasi ini ditujukan bagi pemilik toko agar bisa mencatat transaksi perniagaan.  Aplikasi Cashier ini pun membantu para pemilik toko untuk mengelola stock keeping unit (SKU). Melalui dua aplikasi tersebut, Snapcart mampu menghasilkan gambaran menyeluruh mengenai pola belanja masyarakat, baik di modern trade (supermarket) maupun di general trade (pasar atau warung). Total sekitar 2,5 triliun data, dikoleksi Snapcart per hari

Rey mengemukakan, hingga saat ini aplikasinya telah diunduh 1 juta orang. “Kita bukan hanya di Indonesia saja. Ada juga di Filipina, Singapura, dan kita juga masih melihat apakah masih mungkin untuk merambah di negara Asia Tenggara yang lain. Tapi kita juga melihat ke Amerika Latin, jadi kita juga punya operasional di Brasil, kenapa? Karena kita melihatnya dari potensi negara berkembang,” lanjut Rey.

Soal keamanan data, Rey menjamin Snapcart hanya mengambil data yang tertera dalam setruk belanja. Snapcart tidak melalukan penetrasi ke media sosial pengguna. Selain itu, soal keamanan data dari penggunaan kamera ponsel, Rey menjelaskan citra gambar yang bukan setruk belanja akan terkesampingkan secara otomatis. Hal ini karena Snapcart mengaplikasikan teknologi artificial intelligence (AI) untuk bisa mengoleksi, memproses offline data yang dikumpulkan. “Snapcart bisa mengesampikan data yang bukan berasal dari setruk belanja milik user. Ada pula image recognition dan lainnya,” ujarnya.

Data yang kemudian diberikan kepada perusahaan klien Snapcart merupakan data penggabungan dari banyak pengguna. “Snapcart tidak pernah memberikan data individual para user-nya kepada klien-klien Snapcart,” tambahnya.
Total sudah ada 80 klien dari Snapcart yang merupakan perusahaan dengan merek terkenal tentunya, seperti Loreal, PnG, Nestle, dan lainnya. (M-2)

___________________________

Originally written by Despian Nurhidayat published by Media Indonesia on Oct 11 2018.

Source: http://mediaindonesia.com/read/detail/189869-reynazran-royono-membaca-pelanggan-dari-setruk-belanja